Sorotan:
- Suhu di sejumlah wilayah Indonesia mencapai 38°C lebih pada Juni 2026
- Balita 0–5 tahun paling rentan kehilangan cairan tubuh secara cepat
- IDAI ingatkan orang tua waspadai tanda dehidrasi sebelum anak jatuh lemas
Gelombang panas yang melanda Indonesia sejak pertengahan Juni 2026 menempatkan balita di posisi paling rentan. Tubuh kecil mereka kehilangan cairan dua kali lebih cepat dibanding orang dewasa — dan tanda-tandanya kerap diabaikan sampai kondisi memburuk. Dokter spesialis anak mengingatkan: tunggu sampai anak lemas berarti sudah terlambat.
🔖 Simpan artikel ini — diperbarui setiap perkembangan baru.
Mengapa Balita Paling Rentan Dehidrasi Saat Panas?

Balita memiliki proporsi cairan tubuh yang lebih besar dibanding orang dewasa — sekitar 75–80% berat badannya adalah air, menurut data dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Tapi justru karena itulah mereka lebih cepat mengalami ketidakseimbangan cairan ketika suhu lingkungan meningkat tajam.
Sistem termoregulasi balita belum sempurna. Mereka tidak bisa mengungkapkan rasa haus seperti orang dewasa. Dan di musim kemarau dengan suhu di atas 35°C — seperti yang terjadi di sejumlah kota besar Indonesia pada Juni 2026 — keringat mereka menguap lebih cepat dari kemampuan tubuh menggantinya.
Kondisi ini diperparah jika balita sedang mengalami diare atau muntah. Seperti yang dijelaskan dalam panduan penanganan dehidrasi akibat diare saat kemarau, kombinasi cuaca panas dan kehilangan cairan dari saluran cerna bisa mendorong balita ke kondisi kritis dalam hitungan jam.
“Dehidrasi pada bayi dan balita bisa berlangsung sangat cepat. Dalam kondisi panas ekstrem, orang tua tidak boleh menunggu anak terlihat lemas — itu sudah tanda dehidrasi berat.” — dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A(K), Ketua Umum IDAI (dikutip dari pernyataan resmi IDAI, Mei 2026)
5 Tanda Dehidrasi pada Balita yang Harus Langsung Ditangani

Ini bukan daftar biasa. Ini urutan tanda dari ringan ke berat — kenali sejak gejala pertama muncul.
1. Mulut dan Bibir Kering
Ini tanda paling awal dan paling mudah dideteksi. Bibir terlihat pecah-pecah, lidah terasa lengket, dan air liur berkurang drastis. Jika kamu menekan kuku anak dan warna merah kembali dalam lebih dari 2 detik, itu sinyal aliran darah mulai melambat akibat kurang cairan.
2. Popok Kering Lebih dari 6 Jam (untuk bayi)
Bayi yang cukup terhidrasi akan buang air kecil setidaknya setiap 4–6 jam. Jika popok tetap kering lebih dari 6 jam di cuaca panas, menurut panduan Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes), ini sudah masuk kategori tanda dehidrasi sedang yang perlu perhatian segera.
3. Mata Cekung dan Air Mata Sedikit atau Tidak Ada
Saat menangis, bayi yang dehidrasi tidak mengeluarkan air mata — atau sangat sedikit. Mata juga terlihat lebih cekung dari biasanya. Tanda ini sering muncul bersamaan dengan kulit yang kehilangan kekenyalannya: cubit kulit perut anak, jika lambat kembali ke posisi semula, itu tanda dehidrasi.
4. Rewel Tidak Biasa, Lalu Tiba-tiba Jadi Lesu
Ini yang sering salah baca oleh orang tua. Awalnya anak menjadi sangat rewel dan menangis terus-menerus — itu respons tubuh terhadap ketidaknyamanan. Tapi jika tiba-tiba anak menjadi diam, tidak responsif, dan tampak mengantuk berlebihan, kondisi sudah bergeser ke dehidrasi berat. Segera ke fasilitas kesehatan.
5. Ubun-ubun Cekung (pada Bayi di Bawah 18 Bulan)
Pada bayi yang ubun-ubunnya belum menutup sempurna, cekung ke dalam adalah tanda serius. Ubun-ubun yang sehat akan terasa datar atau sedikit membonjol saat menangis. Jika cekung dalam keadaan tenang, segera bawa ke IGD.
Apa yang Harus Dilakukan Orang Tua?

Penanganan awal yang tepat menentukan segalanya. Berikut langkah berdasarkan panduan WHO dan Kemenkes RI:
- Dehidrasi ringan: Berikan ASI lebih sering untuk bayi. Untuk balita di atas 6 bulan, berikan oralit atau air matang dalam tegukan kecil tapi sering.
- Jangan berikan minuman manis atau jus: Kandungan gula tinggi justru memperburuk kondisi karena menarik lebih banyak cairan keluar dari sel.
- Hindari minuman dingin berlebihan: Suhu ekstrem pada minuman bisa menyebabkan kejang perut pada balita.
- Pindahkan ke ruangan sejuk: Kurangi paparan panas langsung untuk memperlambat penguapan keringat.
- Segera ke dokter jika: anak tidak mau minum sama sekali, muntah terus-menerus, bibir sangat kering, atau tampak sangat lesu.
Jika balita juga menunjukkan tanda daya tahan tubuh yang menurun — seperti sering sakit dalam rentang waktu pendek — risiko komplikasi dehidrasi lebih tinggi dan penanganan medis harus lebih cepat.
“Oralit adalah lini pertama penanganan dehidrasi anak di rumah. Tapi jika anak tidak mau minum atau kondisinya memburuk dalam 2 jam, jangan tunda ke rumah sakit.” — dr. Mexitalia Setiawati, Sp.A(K), MPH, Anggota UKK Nutrisi dan Penyakit Metabolik IDAI (dikutip dari materi edukasi IDAI, 2025)
Berapa Banyak Cairan yang Dibutuhkan Balita Setiap Hari?

Kebutuhan cairan harian balita bervariasi berdasarkan usia dan berat badan. Mengacu pada rekomendasi WHO:
| Usia | Kebutuhan Cairan Harian |
|---|---|
| 0–6 bulan | Hanya ASI (tidak perlu tambahan air) |
| 6–12 bulan | ASI + 200–400 ml air/hari |
| 1–3 tahun | 1.000–1.300 ml/hari (termasuk dari makanan) |
| 4–5 tahun | 1.200–1.500 ml/hari |
Di musim panas ekstrem, kebutuhan ini bisa meningkat 20–30% dari angka normal, menurut panduan WHO untuk manajemen cairan anak di iklim tropis (WHO, 2023).
Pastikan juga asupan nutrisi anak terjaga, karena daya tahan tubuh anak yang optimal membantu tubuh merespons stres panas dengan lebih baik.
Kapan Harus ke IGD?

Segera bawa balita ke IGD rumah sakit terdekat jika ditemukan tanda-tanda berikut:
- Tidak buang air kecil lebih dari 8 jam
- Menangis tapi tidak ada air mata sama sekali
- Kulit terasa dingin dan lembap tapi anak tampak sangat lemas
- Tidak mau minum apapun
- Kejang atau penurunan kesadaran
Jangan tunggu semua tanda muncul bersamaan. Satu tanda berat saja sudah cukup alasan untuk langsung ke fasilitas kesehatan.
Apa Selanjutnya?
BMKG mencatat suhu udara di Pulau Jawa dan Nusa Tenggara diprediksi tetap di atas rata-rata hingga akhir Juni 2026, dengan puncak kemarau diperkirakan jatuh pada Juli–Agustus. Artinya, risiko dehidrasi pada balita akan terus tinggi dalam beberapa pekan ke depan.
Kemenkes RI telah mengeluarkan imbauan kepada seluruh puskesmas dan posyandu untuk meningkatkan edukasi kepada orang tua tentang pencegahan dehidrasi anak selama musim kemarau 2026. Orang tua diimbau aktif memantau tanda-tanda awal — dan tidak menunggu kondisi anak memburuk sebelum bertindak.
Konsultasikan dengan dokter anak sebelum memberikan penanganan mandiri, terutama jika balita berusia di bawah 6 bulan atau memiliki riwayat penyakit tertentu.
Sumber:
- Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI)
- Kementerian Kesehatan RI
- World Health Organization — (Panduan Manajemen Dehidrasi Anak, 2023)
- BMKG —(Prakiraan Cuaca Juni 2026)
📩 Dapatkan update kesehatan anak terbaru langsung ke inbox Anda — daftar newsletter pagakabsleman.org.


