Waspada, Underweight Balita Jadi Tantangan Baru meski Stunting Turun

image Website Resmi Pengurus Cabang Persatuan Ahli Gizi Anak Indonesia Kabupaten Sleman

Ringkasan Cepat:

  • Prevalensi stunting nasional turun ke 19,8% pada 2024, dari 21,5% setahun sebelumnya, menurut hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) yang dirilis Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK) Kemenkes.
  • Di tengah tren positif itu, indikator underweight atau berat badan kurang pada balita justru masih naik, kata Kemenkes dalam evaluasi Triwulan III 2025.
  • Kualitas MPASI jadi sorotan: hanya 48,3% anak mengonsumsi MPASI sesuai standar minimal, dan 21,6% MPASI balita 6–23 bulan sama sekali tidak mengandung protein hewani.

Jakarta, 11 September 2026 — Kementerian Kesehatan mencatat prevalensi stunting balita turun ke 19,8% pada 2024, tapi underweight atau berat badan kurang justru meningkat. Temuan ini diungkap dalam evaluasi capaian gizi Triwulan III 2025 yang dipublikasikan Kemenkes, dan kini jadi pekerjaan rumah baru menjelang target 17,5% pada 2026.

Mengapa Ini Penting?

Tablet menampilkan grafik data SSGI Kemenkes menunjukkan penurunan stunting ke 19,8 persen di samping kenaikan underweight.

Selama ini stunting jadi indikator utama yang dikejar pemerintah. Data terbaru justru menunjukkan gambaran yang lebih rumit dari itu. Menurut hasil diseminasi SSGI 2024 oleh BKPK Kemenkes, stunting turun dari 21,5% ke 19,8%, melampaui proyeksi Bappenas yang sebelumnya memperkirakan angka 20,1%. Namun dalam evaluasi Triwulan III 2025, Kemenkes menyebut hanya stunting, wasting, dan overweight yang menurun dibanding 2023. Underweight, yaitu berat badan anak yang tidak sesuai umurnya, justru bergerak ke arah sebaliknya.

Kondisi ini penting bagi orang tua di Indonesia karena underweight kerap jadi tanda peringatan dini sebelum anak jatuh ke stunting maupun wasting. Dirjen Kesehatan Primer dan Komunitas Kemenkes, Maria Endang Sumiwi, menegaskan seluruh indikator gizi balita perlu dituntaskan bersamaan, bukan hanya stunting.

“Upaya penurunan harus ditingkatkan agar pada 2026 semua indikator berada dalam zona hijau.”
— Maria Endang Sumiwi, Dirjen Kesehatan Primer dan Komunitas Kemenkes, keterangan resmi Kemenkes, 10 November 2025

Data yang sama juga memetakan disparitas ekonomi yang tajam. Prevalensi stunting pada kelompok rumah tangga termiskin mencapai 29,8%, sementara pada kelompok terkaya hanya sekitar 12%, menurut paparan Kepala BKPK Kemenkes dalam diseminasi SSGI 2024. Ini menunjukkan status gizi anak masih sangat dipengaruhi kondisi sosial ekonomi keluarga, bukan semata soal pengetahuan gizi.

Kondisi rumah yang tidak layak huni turut memperberat risiko ini, seperti pernah dibahas dalam laporan rumah tidak layak huni sebagai pemicu stunting di Kabupaten Sleman, yang menyoroti keterkaitan sanitasi dan kondisi hunian dengan status gizi anak.

Reaksi dan Dampak

Grafik pertumbuhan Buku KIA memperlihatkan garis berat badan mendatar sebagai tanda bahaya weight faltering.

Akar masalah underweight banyak bermuara pada kualitas MPASI yang belum memenuhi standar. Berdasarkan evaluasi Kemenkes yang dipublikasikan BKPK, hanya 48,3% anak mengonsumsi MPASI sesuai standar minimal, yakni lima dari delapan kelompok pangan yang dianjurkan. Lebih mengkhawatirkan lagi, 21,6% MPASI yang diberikan pada balita usia 6–23 bulan sama sekali tidak mengandung protein hewani, meski Kemenkes sudah tiga tahun terakhir gencar mengampanyekan hal ini.

“Kualitas MPASI juga masih jauh dari harapan.”
— Maria Endang Sumiwi, evaluasi gizi nasional BKPK Kemenkes, 8 Oktober 2025

Cakupan ASI eksklusif turut melemah, dari 68,6% menurut Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menjadi 66,4% berdasarkan SSGI 2024. Padahal ASI eksklusif dan MPASI yang tepat adalah dua pilar utama pencegahan gizi kurang pada usia emas pertumbuhan.

Persoalan protein hewani ini sejalan dengan penjelasan sebelumnya soal pentingnya protein hewani sejak 1000 hari pertama kehidupan untuk mencegah stunting, yang menyebut periode kehamilan hingga usia dua tahun sebagai jendela paling menentukan.

Di sisi lain, kenaikan underweight bukan berarti angka gizi lebih ikut terkendali sepenuhnya. Data historis SSGI justru memperlihatkan pola double burden: masalah gizi kurang dan gizi lebih berjalan beriringan di kelompok usia yang sama.

Fenomena ini pernah diulas dalam laporan tentang obesitas anak yang meningkat 10 kali lipat dalam empat dekade terakhir, yang menunjukkan Indonesia kini menghadapi dua sisi masalah gizi sekaligus, bukan hanya kekurangan.

Kronologi Peristiwa

Sajian MPASI kaya protein hewani telur ikan kembung dan hati ayam untuk mencegah balita underweight.
WaktuKejadianSumber
Agustus 2024Pelaksanaan SSGI 2024 di 514 kabupaten/kota, 38 provinsiKemkes.go.id
26 Mei 2025Diseminasi hasil SSGI 2024: stunting turun ke 19,8%BKPK Kemenkes
8 Oktober 2025Evaluasi gizi nasional ungkap kualitas MPASI masih rendahBKPK Kemenkes
10 November 2025Publikasi data Triwulan III 2025: underweight masih naikKemenkes (InfoPublik)
18 Mei 2026Kemenkes tegaskan target stunting 17,5% pada 2026Kemenkes

Apa Selanjutnya?

Dokter spesialis anak memberikan konsultasi rujukan balita dengan berat badan tidak naik dua bulan berturut-turut.

Kemenkes menargetkan stunting turun bertahap sesuai RPJMN: 18,8% pada 2025, 17,5% pada 2026, hingga 14,2% pada 2029. Untuk underweight, arah kebijakan berfokus pada penguatan MPASI bergizi dan integrasi program Makan Bergizi Gratis dengan edukasi keluarga, terutama untuk anak usia 12–24 bulan yang disebut Kemenkes sebagai fase paling rawan.

Bagi orang tua yang menghadapi anak sulit makan, salah satu pemicu umum underweight, panduan praktis pernah dibahas dalam artikel tujuh cara mengatasi anak susah makan yang bisa jadi langkah awal di rumah.

Penting: Konsultasikan dengan dokter anak sebelum mengambil tindakan, terutama jika berat badan anak tidak naik dalam dua bulan berturut-turut sesuai pemantauan posyandu.


Artikel ini ditulis oleh Darius, kontributor kesehatan anak di pagakabsleman.org.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *