Anak Suka Teriak? Ini 10 Cara Mengatasinya Tanpa Ikut Membentak

Teriak

Anak yang suka berteriak tidak selalu sedang “nakal”. Teriakan bisa menjadi cara anak mengekspresikan marah, frustrasi, lelah, meminta sesuatu, atau mencari perhatian ketika kemampuan mengelola emosinya masih berkembang. Orang tua dapat membantu dengan mencari pemicunya, tetap tenang, memberikan batas yang jelas, mengajarkan cara menyampaikan keinginan dengan suara lebih pelan, dan memberikan perhatian positif ketika anak berhasil melakukannya.

pagakabsleman – Menghadapi anak yang tiba-tiba berteriak di rumah, restoran, supermarket, atau tempat umum memang bisa menguras kesabaran. Apalagi ketika sudah diminta berhenti tetapi volume suaranya justru semakin tinggi. Instinct orang tua mungkin ingin membalas dengan suara yang lebih keras supaya anak segera diam.

Sayangnya, ikut berteriak biasanya bukan strategi yang ideal. CDC menyebut perilaku anak dapat dilihat sebagai bentuk komunikasi, sementara perhatian orang tua baik positif maupun negatif dapat memengaruhi kemungkinan suatu perilaku terulang. Karena itu, langkah pertama bukan sekadar menghentikan suara kerasnya, tetapi memahami kenapa anak berteriak dan apa yang terjadi setelah ia melakukannya.

Ada banyak kemungkinan di balik kebiasaan anak berteriak. Pada anak kecil, kemampuan menyampaikan kebutuhan dan mengatur emosi memang masih berkembang. Ketika marah, kecewa, terlalu excited, atau menginginkan sesuatu, suara keras bisa menjadi cara paling mudah untuk mengekspresikannya.

Konteks therefore sangat penting. Anak yang berteriak karena tidak dibelikan mainan membutuhkan respons berbeda dari anak yang berteriak karena kesakitan, ketakutan, lapar, atau sangat lelah. Jangan menganggap semua teriakan sebagai perilaku mencari perhatian.

CDC juga menekankan bahwa strategi mengurangi perhatian hanya sesuai untuk perilaku ringan yang memang bertujuan mencari perhatian. Strategi tersebut tidak tepat jika anak sedang mengalami distress, mempunyai kebutuhan yang belum terpenuhi, melakukan tindakan berbahaya, atau menyakiti dirinya maupun orang lain.

1. Jangan Membalas Teriakan dengan Teriakan

anak 3 Website Resmi Pengurus Cabang Persatuan Ahli Gizi Anak Indonesia Kabupaten Sleman

Ketika anak menaikkan volume suara, orang tua mudah terpancing melakukan hal yang sama. “JANGAN TERIAK!” akhirnya justru disampaikan sambil berteriak. Pesannya menjadi contradictory karena anak diminta menggunakan suara tenang melalui contoh suara yang tidak tenang.

CDC memasukkan yelling dan mempermalukan anak sebagai bentuk perhatian negatif yang tidak sehat. Pendekatan seperti ini dapat berdampak buruk terhadap hubungan orang tua-anak dan kemampuan anak dalam mengelola emosi serta perilaku.

Cobalah mendekat, turunkan posisi tubuh jika memungkinkan, lalu gunakan suara yang jelas tetapi tetap terkendali. Orang tua tetap boleh tegas tanpa harus berteriak. Calm doesn’t mean permissive.

2. Cari Tahu Pemicu Anak Berteriak

Teriak

Daripada hanya fokus pada volumenya, coba perhatikan apa yang terjadi beberapa menit sebelumnya. Apakah anak lapar? Kurang tidur? Berebut mainan? Gadget-nya dihentikan? Atau sedang meminta perhatian?

Mencatat pola selama beberapa hari dapat membantu. Misalnya, ternyata anak hampir selalu berteriak menjelang makan malam ketika lapar atau menjelang tidur ketika sudah kelelahan. Jika trigger sudah diketahui, orang tua bisa melakukan pencegahan sebelum emosi mencapai puncak.

Perilaku anak juga dapat menjadi bentuk komunikasi. Dengan memahami konteks sebelum, saat, dan setelah anak berteriak, orang tua lebih mudah menentukan apakah ia membutuhkan bantuan mengatur emosi, batas yang lebih konsisten, atau kebutuhan dasar yang perlu dipenuhi.

3. Validasi Emosinya, tetapi Tetap Batasi Perilakunya

Memahami perasaan anak bukan berarti semua perilaku harus diperbolehkan. Anak boleh marah karena tidak dibelikan mainan, tetapi orang tua tetap dapat menetapkan bahwa berteriak kepada orang lain bukan cara yang acceptable untuk menyampaikan kemarahan.

Gunakan kalimat sederhana seperti, “Kamu marah karena kita nggak beli mainan itu. Mama ngerti kamu kecewa. Tapi kita bicara pakai suara pelan.” Dengan begitu, emosi dan perilaku diperlakukan sebagai dua hal berbeda.

Pendekatan ini penting karena targetnya bukan membuat anak tidak pernah marah. Marah, kecewa, sedih, dan frustrasi merupakan emosi normal. Yang sedang dipelajari anak adalah bagaimana mengekspresikan emosi tersebut dengan cara yang lebih aman.

4. Ajarkan Konsep “Suara Pelan” dan “Suara Keras”

Untuk anak kecil, perintah “jangan teriak” terkadang terlalu abstrak. Mereka diberi tahu apa yang tidak boleh dilakukan tetapi belum tentu memahami apa yang harus dilakukan sebagai gantinya. Karena itu, ajarkan alternatif secara konkret.

Orang tua dapat mengenalkan “suara dalam rumah” dan “suara luar rumah”. Buat menjadi permainan dengan mencoba berbisik, berbicara normal, kemudian menggunakan suara lebih keras ketika berada di tempat yang memang memungkinkan. Anak belajar bahwa volume suara dapat disesuaikan dengan situasi.

Ketika anak berhasil meminta sesuatu dengan volume yang sesuai, langsung berikan feedback. Misalnya, “Mama suka kamu minta air pakai suara pelan. Jadi Mama bisa dengar dengan jelas.” Specific praise membantu anak memahami perilaku mana yang diharapkan.

5. Jangan Langsung Memberikan Apa yang Diminta Setelah Anak Berteriak

Bayangkan anak meminta permen dan orang tua mengatakan tidak. Anak kemudian berteriak dan menangis selama beberapa menit. Karena malu dilihat orang, akhirnya orang tua memberikan permen agar ia diam.

Dalam situasi seperti ini, anak dapat belajar sebuah pola sederhana: berteriak cukup lama = akhirnya mendapatkan yang diinginkan. CDC menjelaskan bahwa memberikan perhatian atau mengalah setelah tantrum dapat secara tidak sengaja memperkuat perilaku tersebut sehingga lebih mungkin terulang.

Kalau sudah memberikan batas yang reasonable, usahakan konsisten. Anak mungkin menjadi lebih keras pada awal perubahan karena strategi lamanya biasanya berhasil. Consistency matters supaya anak memahami bahwa berteriak tidak mengubah keputusan.

6. Untuk Teriakan Cari Perhatian, Kurangi Respons Secukupnya

Ada situasi ketika anak sengaja menaikkan suara untuk mendapatkan perhatian. Untuk perilaku ringan dan aman seperti ini, memberikan reaksi besar setiap kali anak berteriak justru bisa menjadi reward. Bahkan memarahi pun tetap merupakan bentuk perhatian.

CDC menyarankan strategi mengalihkan atau menarik perhatian dari perilaku ringan yang bertujuan mencari perhatian. Ketika perilaku berhenti, orang tua segera kembali memberikan perhatian dan memuji perilaku yang diinginkan.

Namun, teknik ini tidak boleh digunakan untuk semua teriakan. Jangan mengabaikan anak yang kesakitan, ketakutan, sangat upset, lapar, sakit, atau membutuhkan bantuan. Perilaku berbahaya dan destruktif juga harus segera dihentikan.

7. Berikan Perhatian ketika Anak Berbicara dengan Baik

anak 4 Website Resmi Pengurus Cabang Persatuan Ahli Gizi Anak Indonesia Kabupaten Sleman

Orang tua sering secara tidak sadar memberikan perhatian paling besar saat anak berperilaku buruk. Ketika anak bermain tenang selama 20 menit, tidak ada respons. Begitu berteriak, semua orang langsung melihat dan berbicara kepadanya.

Coba balik polanya. Berikan lebih banyak positive attention ketika anak melakukan perilaku yang ingin dipertahankan. CDC menyebut pujian yang spesifik membantu anak mengetahui dengan jelas perilaku apa yang disukai orang tua dan mendorong perilaku tersebut muncul kembali.

Daripada hanya mengatakan “good job”, buat pujiannya specific. “Terima kasih sudah panggil Mama pakai suara biasa” memberikan informasi lebih jelas. Anak kemudian memahami exactly apa yang membuatnya mendapat respons positif.

8. Ajarkan Kalimat Pengganti untuk Mengungkapkan Emosi

Sebagian anak berteriak karena belum memiliki cukup kata untuk menjelaskan apa yang dirasakan. Mereka tahu sedang sangat kesal tetapi belum tahu bagaimana mengatakan, “Aku kecewa karena mainanku diambil.”

Orang tua dapat memberikan vocabulary sederhana sesuai usia. Ajarkan kalimat seperti “Aku marah”, “Aku nggak suka”, “Tolong bantu”, “Aku mau giliran”, atau “Aku butuh waktu”. Saat situasi tenang, lakukan role-play agar anak terbiasa menggunakannya.

Ketika anak mulai berteriak, orang tua bisa memberikan prompt pendek: “Coba bilang, ‘Aku marah’.” Jangan memberikan lecture panjang saat emosinya sedang sangat tinggi. Teaching usually works better ketika anak sudah lebih calm.

9. Berikan Pilihan Sederhana

Anak kadang berteriak ketika merasa tidak mempunyai kontrol terhadap situasi. Memberikan pilihan kecil dapat membantu mereka merasa dilibatkan tanpa membuat orang tua kehilangan batas. Pilihannya tentu harus sama-sama acceptable.

Misalnya, bukan bertanya “Mau mandi nggak?” jika mandi memang harus dilakukan, tetapi katakan, “Mau mandi sekarang sambil bawa bebek atau kapal-kapalan?” Anak tetap mandi, tetapi mempunyai kesempatan menentukan sebagian prosesnya.

Pilihan juga jangan terlalu banyak. Dua opsi biasanya lebih mudah dipahami anak kecil daripada memberikan lima atau enam kemungkinan sekaligus. Keep it simple.

10. Terapkan Konsekuensi yang Jelas untuk Perilaku Serius

Jika teriakan disertai melempar barang, memukul, menendang, atau tindakan berbahaya, perilaku tersebut tidak boleh sekadar diabaikan. Orang tua perlu menghentikannya dan menetapkan batas yang jelas. Safety comes first.

CDC menyarankan konsekuensi yang jelas, konsisten, dan diberikan segera setelah perilaku yang tidak diinginkan. Untuk anak kecil, distraction dan redirection dapat dicoba terlebih dahulu; pada perilaku tertentu, konsekuensi logis, kehilangan privilege, atau time-out yang diterapkan secara tepat dapat dipertimbangkan.

Konsekuensi sebaiknya masuk akal dan terkait dengan perilakunya. Jika anak terus melempar mainan setelah diperingatkan, misalnya, mainan tersebut dapat disimpan sementara. Setelah situasi selesai, kembali ke komunikasi positif dan berikan perhatian ketika anak menunjukkan perilaku yang diharapkan.

Tidak semua masalah perilaku dapat diselesaikan dengan disiplin. Anak yang sangat lapar atau kelelahan memang bisa mempunyai kemampuan regulasi emosi yang lebih terbatas. Karena itu, perhatikan apakah teriakan sering muncul pada waktu tertentu.

Rutinitas yang cukup predictable dapat membantu anak mengetahui apa yang akan terjadi berikutnya. Berikan warning sebelum transisi, misalnya, “Lima menit lagi kita selesai bermain dan mandi.” Anak mempunyai kesempatan mempersiapkan diri daripada aktivitas favoritnya dihentikan secara tiba-tiba.

CDC secara khusus mengingatkan bahwa perilaku yang muncul karena kebutuhan seperti lapar, lelah, atau sakit sebaiknya tidak ditangani dengan mengabaikan anak. Kebutuhannya perlu diatasi terlebih dahulu.

This is the challenging part. Selain menghadapi anak, orang tua merasa sedang diperhatikan banyak orang. Rasa malu akhirnya membuat keputusan yang biasanya konsisten di rumah berubah ketika berada di supermarket atau restoran.

Usahakan tidak mengambil keputusan hanya untuk menghentikan tatapan orang. Jika memungkinkan, bawa anak ke area yang lebih tenang, bantu ia menenangkan diri, dan tetap pertahankan batas yang sebelumnya diberikan. Hindari negosiasi panjang ketika anak sedang berada di puncak emosi.

Sebelum pergi, orang tua juga bisa memberikan ekspektasi sederhana. “Kita ke supermarket beli susu dan buah. Hari ini nggak beli mainan.” Clear expectations tidak menjamin tantrum tidak terjadi, tetapi membantu anak mengetahui batas sejak awal.

Jangan Memberi Label “Anak Nakal”

Mengatakan “Kamu memang anak nakal” berbeda dengan mengatakan “Berteriak seperti itu tidak boleh.” Kalimat pertama memberi label pada identitas anak, sementara kalimat kedua membahas perilaku tertentu yang masih bisa diubah.

Fokuslah pada tindakan. Anak perlu mengetahui bahwa orang tua tetap menyayanginya meskipun suatu perilakunya tidak diterima. Boundaries and affection can exist together.

CDC juga menganjurkan komunikasi positif dan menghindari respons seperti mempermalukan anak. Setelah konsekuensi selesai, kembali berinteraksi secara positif dan cari kesempatan untuk memberikan pujian ketika anak melakukan hal yang benar.

Jika Mama melarang berteriak tetapi Papa selalu memberikan apa yang diminta ketika anak mulai berteriak, anak menerima dua pesan berbeda. Hal serupa bisa terjadi dengan kakek-nenek, babysitter, atau pengasuh lainnya.

CDC menyebut konsistensi antar-pengasuh penting ketika mencoba mengurangi perilaku tertentu. Jika satu orang terus memberikan perhatian atau mengalah sementara yang lain tidak, perubahan perilaku bisa membutuhkan waktu lebih lama.

Tidak berarti seluruh anggota keluarga harus mempunyai parenting style yang identik. Namun, aturan dasar sebaiknya disepakati. Misalnya, semua sepakat bahwa anak harus meminta dengan suara biasa dan teriakan tidak digunakan untuk mendapatkan sesuatu.

Beri Waktu Khusus untuk Bermain Bersama

Kadang anak meningkatkan perilaku mencari perhatian ketika positive attention yang diterimanya relatif sedikit. Memberikan waktu khusus untuk bermain bersama dapat menjadi salah satu cara memperkuat hubungan. Tidak harus berjam-jam atau menggunakan mainan mahal.

CDC merekomendasikan child-led play, yakni memberi kesempatan anak memimpin permainan sementara orang tua mengikuti, memperhatikan, mendeskripsikan aktivitas, dan memberikan pujian positif. Aktivitas ini dapat membantu membangun koneksi, kepercayaan diri, dan komunikasi.

Selama waktu tersebut, letakkan smartphone jika memungkinkan dan benar-benar hadir. Quality attention yang diberikan ketika anak berperilaku positif membantu mengubah pola bahwa ia hanya mendapat perhatian besar setelah berteriak.

Kapan Kebiasaan Berteriak Perlu Dikonsultasikan?

Sesekali berteriak atau tantrum cukup common pada anak kecil. Namun, orang tua dapat mencari bantuan profesional jika perilaku terasa sangat intens, terus-menerus, sulit dikelola, membahayakan anak atau orang lain, atau sampai mengganggu aktivitas sehari-hari di rumah maupun sekolah.

Perhatikan pula perkembangan anak secara keseluruhan. Jika orang tua mempunyai kekhawatiran mengenai kemampuan bicara dan bahasa, interaksi sosial, perkembangan, pendengaran, atau regulasi emosi, sampaikan kepada dokter anak. Evaluasi profesional dapat membantu mencari kemungkinan penyebab dan menentukan dukungan yang sesuai.

Jangan menunggu hanya karena berharap anak pasti “nanti juga berubah sendiri” jika memang ada kekhawatiran perkembangan. Sebaliknya, satu atau dua episode teriakan juga tidak otomatis berarti anak mempunyai gangguan tertentu. Context and pattern matter.

Cara mengatasi anak yang suka teriak bukan dengan memenangkan adu volume. Orang tua perlu mencari tahu pemicunya, memberikan contoh suara yang tenang, mengajarkan kata-kata untuk mengekspresikan emosi, menetapkan batas, dan memberikan perhatian positif ketika anak menggunakan perilaku yang lebih appropriate.

Untuk teriakan ringan yang hanya bertujuan mencari perhatian, mengurangi respons kemudian segera memuji perilaku positif dapat digunakan secara konsisten. Namun, jangan mengabaikan anak yang sedang kesakitan, ketakutan, sangat tertekan, mempunyai kebutuhan yang belum terpenuhi, atau melakukan tindakan berbahaya.

Yang perlu diingat, anak sedang belajar mengelola emosi dan berkomunikasi. Perubahan biasanya tidak terjadi overnight. Respons orang tua yang tenang, predictable, dan konsisten membantu anak memahami satu pesan sederhana: semua perasaan boleh dirasakan, tetapi ada cara yang lebih baik untuk menyampaikannya.

Referensi

  1. Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Tips for Responding to Behavior – Essentials for Parenting Toddlers and Preschoolers.
  2. CDC. Tips for Redirecting Your Attention. Diperbarui April 2026.
  3. CDC. Tips for Using Praise and Rewards. Diperbarui April 2026.
  4. CDC. Tips for Using Consequences.
  5. CDC. How to Use Time-Out. Diperbarui April 2026.
  6. CDC. Positive Parenting Tips: Toddlers (2–3 Years Old).
  7. CDC. Tips for Child-led Play. Diperbarui April 2026.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *