Sorotan:
- Diare akut pada anak meningkat signifikan saat musim kemarau akibat kontaminasi air dan makanan
- Dehidrasi adalah ancaman terbesar — bisa kritis dalam hitungan jam
- 5 langkah pertama yang tepat bisa mencegah rawat inap
Jakarta — Musim kemarau 2026 belum mencapai puncaknya, namun kasus diare pada anak di berbagai daerah di Indonesia sudah mulai melonjak. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mencatat diare masuk dalam 10 besar penyakit yang paling sering menyerang anak balita setiap tahun, dengan puncak kasus berulang di periode kemarau Juni–September.
🔖 Simpan artikel ini untuk perkembangan terbaru seputar kesehatan anak.
Mengapa Diare Lebih Berbahaya di Musim Kemarau?

Saat kemarau, sumber air bersih menyusut dan kualitasnya menurun drastis. Bakteri Escherichia coli, Salmonella, dan Shigella berkembang lebih cepat di air yang tercemar maupun makanan yang terkontaminasi debu dan lalat.
Menurut data WHO (2024), sekitar 525.000 anak di bawah usia 5 tahun meninggal akibat diare setiap tahunnya secara global — dan sebagian besar kematian tersebut sebenarnya dapat dicegah dengan penanganan dini yang benar.
“[Diare pada anak balita yang disertai tanda dehidrasi harus segera mendapat pertolongan. Orang tua tidak boleh menunggu lebih dari 6 jam jika anak tampak lemas dan tidak mau minum.]” — dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A(K), Ketua Umum IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia, 2025)
5 Hal yang Wajib Dilakukan Orang Tua Saat Anak Diare

Jangan panik. Lakukan langkah ini secara berurutan.
1. Berikan Oralit Segera — Jangan Tunggu Sampai Lemas
Oralit adalah lini pertama penanganan diare. Campurkan 1 sachet oralit dalam 200 ml air matang yang sudah dingin. Berikan sedikit-sedikit tapi sering — setiap 5 menit, sekitar 1–2 sendok teh untuk bayi, atau 1–2 tegukan untuk anak yang lebih besar.
Jika oralit tidak tersedia, larutan gula-garam rumahan bisa menjadi alternatif sementara: 1 sendok teh gula + 1/4 sendok teh garam dalam 200 ml air matang.
DILARANG: Jangan berikan minuman bersoda, jus buah kemasan, atau susu formula full-fat saat diare aktif. Ini memperparah kehilangan cairan.
2. Kenali Tanda Dehidrasi — Ini Darurat Medis
Ini yang paling krusial. Anak dengan diare bisa mengalami dehidrasi berat dalam waktu sangat singkat, terutama bayi di bawah 1 tahun.
Tanda dehidrasi RINGAN–SEDANG (tangani di rumah):
- Mulut dan lidah kering
- Anak rewel atau gelisah
- Air mata berkurang saat menangis
- Urin lebih pekat dari biasanya
Tanda dehidrasi BERAT (segera ke IGD):
- Mata sangat cekung
- Anak tampak sangat lemas atau tidak responsif
- Tidak buang air kecil lebih dari 6–8 jam
- Ubun-ubun bayi cekung
3. Terus Berikan Makanan — Jangan Puasakan Anak
Ini kesalahpahaman yang masih sangat umum di masyarakat Indonesia. Memuasakan anak saat diare justru memperlambat pemulihan dinding usus.
Menurut panduan IDAI, anak yang masih menyusu ASI harus tetap disusui lebih sering. Anak yang sudah MPASI atau makan nasi bisa diberikan makanan lunak seperti bubur, pisang, atau kentang rebus — hindari makanan berlemak tinggi dan berserat kasar sementara waktu.
Perhatikan juga bahwa penurunan daya tahan tubuh anak yang sudah terjadi sebelumnya bisa membuat durasi diare lebih panjang. Pastikan asupan nutrisi tidak terputus.
4. Berikan Zinc 10–14 Hari Penuh
Zinc adalah suplemen yang terbukti secara klinis memperpendek durasi diare dan mencegah kekambuhan dalam 2–3 bulan ke depan. Ini sudah menjadi standar WHO dan IDAI.
Dosis: 10 mg/hari untuk bayi di bawah 6 bulan, dan 20 mg/hari untuk anak 6 bulan ke atas — selama 10–14 hari penuh, meski diare sudah berhenti.
Sayangnya, kepatuhan pemberian zinc masih rendah di Indonesia. Banyak orang tua menghentikannya begitu anak kelihatan membaik, padahal manfaat utamanya justru ada pada hari-hari berikutnya.
“[Zinc harus diberikan selama 10–14 hari tanpa putus. Ini bukan hanya untuk menghentikan diare sekarang, tapi untuk memperkuat pertahanan usus anak ke depannya.]” — dr. Ariani Dewi Widodo, Sp.A(K), Dokter Spesialis Anak Konsultan Gastrohepatologi, RSCM Jakarta (dikutip dari webinar IDAI, Maret 2025)
5. Kapan Harus ke Dokter? Kenali Batasnya
Tidak semua diare harus langsung ke dokter. Tapi ada garis batas yang tidak boleh dilewati.
Segera bawa ke dokter atau IGD jika:
- Diare lebih dari 3 hari tanpa tanda membaik
- Ada darah atau lendir dalam tinja
- Anak demam tinggi di atas 38,5°C
- Anak muntah terus-menerus hingga tidak bisa minum oralit
- Tanda dehidrasi berat seperti di poin 2
Jaga juga kondisi imun anak secara menyeluruh. Anak dengan imun yang sudah lemah akibat infeksi sebelumnya lebih rentan mengalami diare berkepanjangan dan komplikasi.
Reaksi dan Dampak: Beban Diare pada Sistem Kesehatan Indonesia

Data Profil Kesehatan Indonesia 2024 dari Kemenkes mencatat diare sebagai penyebab kematian kedua pada anak balita setelah pneumonia. Di tingkat Puskesmas, kasus diare pada anak konsisten masuk dalam 5 besar kunjungan setiap musim kemarau.
Di sisi lain, riset dari Universitas Indonesia (2023) menemukan bahwa lebih dari 60% orang tua di Indonesia masih memberikan penanganan yang tidak tepat di rumah — mulai dari memuasakan anak, memberikan antibiotik tanpa resep, hingga terlambat membawa ke fasilitas kesehatan.
Perbaikan nutrisi juga menjadi faktor kunci. Anak yang mendapat asupan omega-3 yang cukup untuk perkembangan otak dan tubuh cenderung memiliki respons imun yang lebih baik, termasuk dalam memulihkan diri dari infeksi saluran cerna.
Apa Selanjutnya? Pencegahan Adalah Kunci

Musim kemarau masih berlangsung hingga setidaknya September–Oktober 2026. Kemenkes mengimbau orang tua untuk memastikan beberapa hal berikut sebagai langkah pencegahan aktif:
- Cuci tangan pakai sabun — sebelum menyiapkan makanan dan setelah ganti popok
- Gunakan air matang — untuk minum dan menyiapkan MPASI
- Simpan makanan dengan benar — hindari makanan yang dibiarkan lebih dari 2 jam di suhu ruang saat cuaca panas
- Pastikan vaksinasi Rotavirus lengkap — tersedia di fasilitas kesehatan pemerintah
Konsultasikan dengan dokter anak sebelum memberikan obat apapun pada anak yang diare, termasuk probiotik dan antibiotik.
Sumber referensi:
- WHO. Diarrhoeal disease factsheet. 2024.
- Kemenkes RI. Profil Kesehatan Indonesia 2024.
- IDAI. Panduan Tatalaksana Diare Akut pada Anak. 2023.


